Rabu, 10 Oktober 2018

Drama Queen

Harus kumulai darimana kali ini, aku kehabisan kata dan entah kata apa yang pantas untuk mendeskripsikan ini.
Mungkin aku buta, tapi bersyukur karena Tuhan tidak membutakan hatiku.
Entah apa yang terjadi padanya, mungkin benturan keras dikepalanya, atau kah benturan keras dihatinya, atau jiwanya yang terbentur.
Entah, dan aku tidak ingin tau.
Itu masalahnya bukan masalahku.
Masalahku hanyalah ketika dirinya memasuki teritorialku dan berlaku seakan menjadi Maha tau akan pribadiku akan hidupku.
Aku belajar untuk menjadi seorang yang dapat mengendalikan ego dan menggunakan hati nuraniku,
Bisakah kamu belajar memperbaiki dirimu tanpa mengusik hidupku?
Membuat geram ketika melihat tingkahnya seakan menjadi pesakitan yang teraniaya.
Ingin berkata kasar, tapi bukankah aku kini menjadi orang yang berbeda?
Aku membuat diriku berbeda darinya.
Karena aku tidak mau menjadi seorang sepertinya.
Aku memiliki pelangiku sendiri.
Kenapa harus selalu melihat pelangiku?
Bukankah setiap orang memiliki pelanginya masing-masing?
Mengapa dia terlalu sibuk untuk melihat pelangi orang lain?
Apakah terlalu malu untuk mengakui apa yang mulutmu lakukan?
Berhentilah menjadi aktris dalam drama yang kau buat.
Berhentilah menjadi produser dan sutradara untuk orang lain dalam dramamu.
Tidakkah sesungguhnya kau kelelahan menutupi apa yang tidak kau akui?
Berhenti membuat skenario-skenario yang menyulitkan dirimu sendiri.
Sungguh aku iba melihatmu, melihatmu ingin diperhatikan dengan caramu.

Aku sempat berfikir, seorang ratu drama hanya ada didalam kisah film atau novel.
Tapi kali ini..
Aku melihatnya..
Aku berada didalam pusaran dramanya..
dan akupun dijadikannya tokoh dalam drama itu, tanpa konfirmasi, tanpa seleksi, tanpa proses audisi, terlebih tanpa casting sebelumnya.
Bukan aku yang menjadikanmu seperti ini.
Bukan mereka juga.
Itu dirimu.
Aku sudah pernah bahkan berulang kali mengingatkan.
Mereka pun demikian.
Tapi dirimu, hatimu, egomu tetap mengingini kau yang seperti ini.

"You cannot push any one up a ladder unless she be willing to climb a little herself"

Yaa..bukan aku, bukan juga mereka, tapi dirimu.
Hanya dirimu yang dapat merubah, bukan kami.

Pesanku untukmu yang baru saja menjadikanku pemain dalam drama kehidupanmu.

Dear Mantan Produser dan Sutradara drama yang aku sendiri tak tau kapan dimulainya.
Sudah puaskah dengan seluruh skenario yang kau buat?
Masih adakah skenario lain yang menjadikanku artismu?
Tak perlu kau jawab, karena kuyakin jawabanmu antara "kurang tepat", "tidak begitu", "tidak pas"
Cukup jawab dalam hatimu dan camkan ini dalam benakmu.
Aku tidak peduli, dan tidak mau peduli atas drama kehidupanmu.
Aku tidak peduli, dan tidak mau peduli atas skenario-skenariomu.
Jangan jadikan aku artismu.
Jangan masukin teritorial pribadiku.
Kuperingatkan untuk menjauh.
Ini hidupku, yang tak berhak kau ganggu.
Ini kisahku, yang tak berhak kau usik.
Dan ini pelangiku, yang tak berhak kau sentuh.
Kau hanya kuperbolehkan melihatnya, dengan mulut terbungkam dan mata tertutup.

Ini peringatan bukan ancaman.
Ini peringatan untukmu yang mengganggu kehidupanku dengan skenario dramamu.

Salam sayang selalu dariku yang selalu siap jika kau datang kembali disuatu saat nanti.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar