Kamis, 11 Oktober 2018

10.10 World Mental Health Day

Hay Hooo...
Ini telat sih, tapi it's okey.
Cz i just want to share about mental health.
For simple word i want to talk like this:

THERE'S NO HEALTH, WITHOUT MENTAL HEALTH

Kenapa gw bilang gitu?
Karena badan yang sehat berawal dari mental yang sehat.
Percuma badan lu sehat kalo ternyata mental lu eg sehat.
Bukan begitu bukan?
Begitu juga sebaliknya.
So...in this time (gaya bahasa anak jaksel) gw mau bahas ini.



Kemarin tanggal 10 Oktober bukan cuma di Indonesia tapi di seluruh dunia sedang merayakan satu momen yaitu HARI KESEHATAN MENTAL SEDUNIA, tujuannya adalah eg lain eg bukan yaitu untuk mengangkat tentang isu isu yang belakangan ini berkembang menjadi trending topik di masyarakat.

Gw info sedikit tentang momentum hari kesehatan mental sedunia ini yang gw dapet dari hasil korek korek internet n tanya ke beberapa orang.


"Perayaan ini pertama kali diinisiasi oleh World Federation for Mental Health pada tahun 1992, dengan membawa misi untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan advokasi masyarakat seluruh dunia mengenai kesehatan jiwa.

Di Indonesia, seperti dilansir laman UGM, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia baru mulai ditetapkan pada tahun 1993. Misi yang dibawa adalah untuk menghormati hak ODMK (Orang dengan Masalah Kejiwaan), memperluas program pencegahan masalah kesehatan jiwa, mendekatkan akses kesehatan pada masyarakat, memperluas cakupan pelayanan, dan meningkatkan upaya kesehatan jiwa secara optimal."

Okey, kalau pertanyaan lu adalah kenapa sih gw bahas ini.
Maka gw akan jawab, cz I CARE!
Ya..gw peduli.
Kenapa gw peduli?
Karena gw tau betul gimana bersama dengan seorang yang mengalami masalah gangguan kejiwaan.

Oh iya, gw mau kasih tau kalo Masalah kesehatan jiwa itu belom tentu gila ya..
So...jangan pernah menjudge orang yang mengalami masalah kesehatan jiwa itu orang Gila ya.
Please stop for judging someone guys!
Hapus stigma negative yang menghantui orang dengan gangguan kejiwaan.
Stigma itu yang akan membuat orang yang mengalami gejala gangguan jiwa eg mau untuk berobat.
Why?
Ya..karena mereka eg mau dikatakan GILA.
Padahal gangguan kejiwaan tuh termasuk kondisi serius yang bikin seseorang eg bisa mengendalikan perasaan, pikiran dan perbuatannya.

Kejadian-kejadian ekstrim akibat gangguan kondisi mental, deket banget sama kehidupan kita. Kondisi-kondisi kaya depresi, kegelisahan, perubahan suasana hati yang mendadak, dan stres, banyak banget kita temui pada semua orang eg terkecuali. Apalagi dengan tekanan dan tuntutan hidup yang semakin berat. Gangguan jiwa itu eg hanya berdampak pada keseharian kita, namun juga bisa menghancurkan kehidupan sosial dan pribadi kita. Bisa bayangin eg kalau kita tau kita sakit kejiwaan n you don't do anything for yourself? Karir lu, hubungan sosial lu bahkan hidup lu bisa berantakan guys.

Menurut WHO, ada 300 juta orang di seluruh dunia yang menderita depresi. Selain itu, ada lebih dari 260 juta orang hidup dengan gangguan kecemasan. Meskipun zaman semakin modern, penanganan terhadap gangguan mental ternyata masih rendah. Masih banyak orang yang mengabaikan pentingnya kesehatan mental.

Iiiiiiuuuwww....ngeri kan guys?
So...if you feel something wrong with your mental, dengan kesadaran penuh ayo guys ke dokter dan periksakan diri sedini mungkin.
Or if you see someone with something wrong with her/his mental, mood or attitude, don't stay away..datang lalu peluk dia, ajak dia untuk mengobati dirinya.
Jangan takut yaa..Karena penyakit kejiwaan itu tidak menular dalam arti kata yang sebenarnya seperti virus ya.

Ada stigma yang beredar dalam masyarakat bahwa gangguan jiwa bisa menular. Anggapan ini jugalah yang membuat kebanyakan orang ngerasa eg mau berdekatan dengan orang gangguan jiwa (ODGJ), bahkan mungkin spontan menghindar begitu berpapasan dengan orang ini. Memang, gejala gangguan jiwa eg semudah itu dikenali, eg kaya gejala flu atau kanker. Gangguan jiwa juga dapat menyerang siapa aja tanpa pandang bulu. Tapi benarkah gangguan jiwa menular? Ternyata, ini kata para ahli kesehatan jiwa…

Eg benar bahwa gangguan jiwa menular
Anggapan bahwa gangguan jiwa menular adalah lagu lama yang eg perlu dipercaya lagi. Suatu penyakit dikatakan bisa menular ketika berasal dari infeksi virus, bakteri, atau jamur yang memang bisa berpindah-pindah dari satu orang ke orang lainnya melalui kontak fisik langsung atau secara eg langsung.
Gangguan jiwa merupakan penyakit yang mempengaruhi otak sehingga  menggangu keseimbangan kimiawi. Misalnya aja orang dengan depresi diketahui memiliki serotonin yang rendah. Kemunculan gejalanya bisa dipicu oleh peristiwa dalam hidup yang meninggalkan dampak atau trauma yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang. Peristiwa-peristiwa itu dapat berupa kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, pelecehan anak, atau stress berat jangka panjang.
Penyakit mental dapat menyebabkan gangguan ringan sampai gangguan berat terhadap cara lu berpikir, merasa, bertindak dan bagaimana lu memandang diri sendiri, orang lain, dan peristiwa dalam hidup. Perwujudan penyakit mental dan keparahan gejalanya pun bisa berbeda antar satu orang dengan yang lainnya karena masing-masing orang memiliki “daya tahan” yang berbeda untuk menangani stres.

Gangguan jiwa tidak menular, tapi bisa diturunkan dari orangtua

Salah jika lu masih menganggap bahwa gangguan jiwa menular. Namun memang meski bukan penyakit menular, gangguan jiwa dapat dikategorikan sebagai penyakit keturunan.
Gangguan jiwa umum terjadi pada orang yang keluarga sedarahnya juga memiliki gangguan jiwa. Gen tertentu dapat meningkatkan risiko lu terkena gangguan jiwa, dan situasi penuh stres atau kejadian traumatis dalam hidup Anda dapat memicu gen tersebut aktif di kemudian hari.

Gangguan jiwa eg menular, tapi bisa didapat
Seperti yang tadi gw jelasin, gen tertentu yang lu wariskan dari salah satu atau kedua orangtua lu dapat meningkatkan risiko terkena gangguan jiwa. Situasi penuh stres atau kejadian traumatis dalam hidup lu di masa lalu dapat memicu gen tersebut aktif di kemudian hari.
Misalnya aja, pola asuh orangtua yang terlalu keras, menerima kekerasan atau pelecehan fisik dan/atau seksual semasa kecil, stres berat jangka panjang, hingga asupan alkohol atau obat-obatan yang lu dapat selama dalam rahim dari ibu yang minum alkohol terkadang dikaitkan dengan kemunculan gangguan jiwa. Kerusakan otak yang dapat memicu gangguan jiwa juga bisa disebabkan oleh penyalahgunaan alkohol atau narkoba, cedera berat pada kepala, atau kecacatan saat lahir.

Gangguan jiwa ‘menular’ secara emosional
Menular disini dalam tanda kutip loh, bukan dalam artian sebenarnya yang menular karena terjangkit virus atau bakteri karena satu habitat. Big NO..NO..
Anggapan bahwa gangguan jiwa menular di sini dapat diartikan sebagai penularan lewat emosional. Sederhananya, ketika lu melihat, menyaksikan, atau hidup bersama orang dengan gangguan jiwa, lu bisa secara eg sadar “tertular” penyakit mental yang dialami orang tersebut. Bukan benar-benar tertular layaknya ketularan flu, tapi rentan ikut mengalami gangguan jiwa akibat tekanan sosial dan situasi berat yang harus dihadapi dan/atau diemban bersama.
Namun, selama daya tahan lu terhadap stres dan bagaimana cara lu menangani stres terbilang cukup baik, misalnya nih lu terus dapat berpikir positif dan eg berlarut-larut dalam menyikapinya serta hubungan sosial lu terhadap orang lain baik, maka lu mungkin lebih kebal dari “ketularan” penyakit jiwa.

Gangguan jiwa bisa diatasi dan dipulihkan sepenuhnya. Dengan penanganan yang tepat misalnya psikoterapi, konseling, dan obat yang diresepkan dokter, gangguan jiwa bisa disembuhkan. Memang ada beberapa jenis gangguan jiwa yang eg bisa sembuh total, misalnya skizofrenia. Akan tetapi, lu masih bisa mengendalikan gejala dan mengurangi intensitasnya. Maka, bukan mustahil bagi ODGJ berat untuk menjalani kehidupan normal seperti bekerja, berkeluarga, dan berkarya.

Uhuy!!!!!
So...masih malu untuk berobat kalo ternyata penyakit kejiwaan ini umum kok diderita sama siapa aja, dimana aja, n kapan aja?
Masih kekeuh bersih keras kalo situ sehat?
Ayo guys..
Sehat mental, sehat hati, sehat jasmani n rohani.

Dalam rangka membantu kampanye hari kesehatan mental sedunia.
Ayo guys, sama sama perangi yang namanya sakit kejiwaan.

Jangan pernah berkata kita punya masalah yang besar, selalu yakinlah dan percaya bahwa kita punya Tuhan yang lebih besar dibanding masalah kita.


Rabu, 10 Oktober 2018

Drama Queen

Harus kumulai darimana kali ini, aku kehabisan kata dan entah kata apa yang pantas untuk mendeskripsikan ini.
Mungkin aku buta, tapi bersyukur karena Tuhan tidak membutakan hatiku.
Entah apa yang terjadi padanya, mungkin benturan keras dikepalanya, atau kah benturan keras dihatinya, atau jiwanya yang terbentur.
Entah, dan aku tidak ingin tau.
Itu masalahnya bukan masalahku.
Masalahku hanyalah ketika dirinya memasuki teritorialku dan berlaku seakan menjadi Maha tau akan pribadiku akan hidupku.
Aku belajar untuk menjadi seorang yang dapat mengendalikan ego dan menggunakan hati nuraniku,
Bisakah kamu belajar memperbaiki dirimu tanpa mengusik hidupku?
Membuat geram ketika melihat tingkahnya seakan menjadi pesakitan yang teraniaya.
Ingin berkata kasar, tapi bukankah aku kini menjadi orang yang berbeda?
Aku membuat diriku berbeda darinya.
Karena aku tidak mau menjadi seorang sepertinya.
Aku memiliki pelangiku sendiri.
Kenapa harus selalu melihat pelangiku?
Bukankah setiap orang memiliki pelanginya masing-masing?
Mengapa dia terlalu sibuk untuk melihat pelangi orang lain?
Apakah terlalu malu untuk mengakui apa yang mulutmu lakukan?
Berhentilah menjadi aktris dalam drama yang kau buat.
Berhentilah menjadi produser dan sutradara untuk orang lain dalam dramamu.
Tidakkah sesungguhnya kau kelelahan menutupi apa yang tidak kau akui?
Berhenti membuat skenario-skenario yang menyulitkan dirimu sendiri.
Sungguh aku iba melihatmu, melihatmu ingin diperhatikan dengan caramu.

Aku sempat berfikir, seorang ratu drama hanya ada didalam kisah film atau novel.
Tapi kali ini..
Aku melihatnya..
Aku berada didalam pusaran dramanya..
dan akupun dijadikannya tokoh dalam drama itu, tanpa konfirmasi, tanpa seleksi, tanpa proses audisi, terlebih tanpa casting sebelumnya.
Bukan aku yang menjadikanmu seperti ini.
Bukan mereka juga.
Itu dirimu.
Aku sudah pernah bahkan berulang kali mengingatkan.
Mereka pun demikian.
Tapi dirimu, hatimu, egomu tetap mengingini kau yang seperti ini.

"You cannot push any one up a ladder unless she be willing to climb a little herself"

Yaa..bukan aku, bukan juga mereka, tapi dirimu.
Hanya dirimu yang dapat merubah, bukan kami.

Pesanku untukmu yang baru saja menjadikanku pemain dalam drama kehidupanmu.

Dear Mantan Produser dan Sutradara drama yang aku sendiri tak tau kapan dimulainya.
Sudah puaskah dengan seluruh skenario yang kau buat?
Masih adakah skenario lain yang menjadikanku artismu?
Tak perlu kau jawab, karena kuyakin jawabanmu antara "kurang tepat", "tidak begitu", "tidak pas"
Cukup jawab dalam hatimu dan camkan ini dalam benakmu.
Aku tidak peduli, dan tidak mau peduli atas drama kehidupanmu.
Aku tidak peduli, dan tidak mau peduli atas skenario-skenariomu.
Jangan jadikan aku artismu.
Jangan masukin teritorial pribadiku.
Kuperingatkan untuk menjauh.
Ini hidupku, yang tak berhak kau ganggu.
Ini kisahku, yang tak berhak kau usik.
Dan ini pelangiku, yang tak berhak kau sentuh.
Kau hanya kuperbolehkan melihatnya, dengan mulut terbungkam dan mata tertutup.

Ini peringatan bukan ancaman.
Ini peringatan untukmu yang mengganggu kehidupanku dengan skenario dramamu.

Salam sayang selalu dariku yang selalu siap jika kau datang kembali disuatu saat nanti.





Senin, 08 Oktober 2018

K.A.R.M.A

Aku sebut ini KARMA.
Entah..mengapa kusebut demikian, mungkin karena kau menyebutnya demikian.
Banyak hal yang ingin ku tanyakan, entah kutanyakan pada siapa..
Mungkin kutanyakan padamu..
padanya...
atau mungkin pada diriku sendiri...
atau entahlah pada siapa pertanyaan ini kutujukan.

"JIKA KAU SEBUT SEMUA HAL YANG TERJADI PADAKU ITU KARMA, LALU SEMUA HAL YANG TERJADI PADAMU KAU SEBUT APA?"

Jika kau sebut yang terjadi padamu adalah IMBAS dari semuanya, lalu kenapa kau sebut semua hal yang terjadi padaku itu karma?
Kenapa tidak kau sebut yang terjadi padaku adalah imbas?
Dan kenapa tidak kau sebut yang terjadi padamu itu karma?

Siapakah yang paling pantas untuk mendeclare sesuatu itu adalah karma atau bukan?
Siapa yang tau itu benar karma atau bukan?
Siapa yang bisa membedakan karma atau imbas?
Kamu tau?
Dirinya yang mendeclarekan itu yang paling tau?
atau orang yang hanya melihat kejadiannya tanpa menjalani yang paling tau?

dan sekarang kamu terdiam?
Memikirkan semua pertanyaanku?
Atau jantungmu berdegup semakin kencang?
Kenapa?
Karena kamu merasa malu atas apa yang sudah kamu baca?
Atau kamu merasa tidak cukup pantas saat itu menyebut kata karma?

Cukupkanlah menjadi Tuhan atas sesuatu yang terjadi pada orang lain.
Bukankah kamu belum cukup pantas untuk memantaskan diri berkata karma?
Cukupkanlah menjadi Hakim atas tindak tanduk orang lain.
Bukankah kamu belum cukup adil untuk bertindak mengkarmakan orang lain?

Sampai kapan kamu akan menjadi Hakim paling adil di duniamu?
Bukan kamu yang pantas.
Ingat!
Bukan kamu yang pantas.
Bukan juga aku yang pantas.
Biarkanlah aku dengan dosaku, tanpa kamu harus menjadi hakim untuk urusan dosaku.
Biarkanlah aku dengan karmaku, tanpa kamu harus menjadi Tuhan untuk urusan karmaku.
Seperti halnya aku tidak mengHakimi dan menTuhani dosa dan karmamu,
dapatkah kamu pun begitu?

Oh..mungkin tidak bisa.
Dan kini aku dapat melihat nilaimu dari sudut pandangku.
Ingat!
melihatmu dari sudut pandangku
Sudut padang seseorang yang pernah kau Karmakan dulu.